Kamis, 04 April 2013

STRATEGI PEMSARAN DAN DAUR HIDUP PRODUK


BAB I
PENDAHULUAN

Konsep daur hidup bisa dimanfaatkan oleh manajer agar bisa memahami dinamika produk dan pasar. Manfaat sesungguhnya bisa beragam tergantung dari situasi pengambilan keputusan. Sebagai alat perencanaan, konsep daur hidup produk bisa membantu memperjelas tantangan-tantangan pemasaran pada setiap tahap dan alternative strategi apa saja yang bisa digunakan perusahaan. Sebagai alat pengendalian, konsep ini membantu perusahaan dalam membandingkan prestasi dengan produksi sejenis dimasa lalu.
Sebenarnya pola daur hidup produk adalah selalu berubah-rubah, karena sulit menduga lamanya suatu tahap dan para manajer sendiri sering tidak bisa memastikan pada tahap apa produk mereka saat ini berada. Suatu produk mungkin kelihatannya mencapai tahap kedewasaan, padahal hanya mencapai saat mendatar pada tahap pertumbuhan untuk sementara sebelum menaiknya kurva untuk kedua kalinya. Pola daur hidup merupakan alat strategi pemasaran, bukan seperti siklus hidup organism yang alami dan pasti. Pola daur hidup menjadi akibat dari berbagai strategi pemasaran yang telah ditentukan perusahaan. Jika penjualan suatu produk menurun, manajer jangan segera mengambil kesimpulan bahwa produk sudah jelas masuk ke tahap kemunduran, karena masih dimungkinkan diambil langkah-langkah strategi pemasaran untuk menaikkan kembali penjualan.
Berikut akan diuraikan empat tahap Daur Hidup Produk beserta contoh strategi implementasi memposisikan tawaran produk kepasar (perusahaan-perusahaan industry) berupa Fasilitas Kepabeanan dan pengembangan produk baru berupa fasilitas Kawasan Berikat ke pasar (perusahan-perusahaan industry di Jawa Barat).
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dalam hal ini Kantor Wilayah DJBC Jawa Barat mengeluarkan/menerbitkan suatu produk/jasa berupa pemberian Fasilitas Kepabeanan dan Cukai. Berbagai macam fasilitas kepabeanan dan cukai  telah di keluarkan pemerintah, tetapi untuk mempersempit pembahasan maka akan di uraikan hanya berupa pemberian fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor dan pengembangan produk fasilitas berupa Kawasan Berikat.

                    

1
BAB  II
PEMBAHASAN

A.  DEFINISI  SIKLUS HIDUP PRODUK
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar . Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978) yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.
B.   TAHAP-TAHAP DALAM SIKLUS HIDUP PRODUK

Ada berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline (obsolescence).
Selain itu ada juga pendapat yang mengkategorikannya ke dalam
tahap introduction, growth, maturity, saturation, dan decline. Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan decline.
Menurut Basu Swastha (1984:127-132), daur hidup produk itu di bagi menjadi empat tahap, yaitu :
1.      Tahap Perkenalan (introduction).
Pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume penjualannya belum tinggi. Ciri-ciri umum tahap ini adalah penjualan yang masih rendah, volume pasar berkembang lambat (karena tingginya market resistance), persaingan yang masih relatif kecil, tingkat kegagalan relatif tinggi, masih banyak dilakukan modifikasi produk dalam pengujian dan pengembangannya (karena problem yang timbul tidak seperti yang diramalkan dan mungkin pula disebabkan pemahaman yang keliru tentang pasar), biaya produksi dan pemasaran sangat tinggi, serta distribusi yang masih terbatas.

1


Permintaan dalam tahap ini datang dari core market, yaitu konsumen yang mempunyai dana berlebih dan mencari produk yang benar-benar diinginkannya. Oleh karena harga produk baru biasanya tinggi (karena belum diproduksi secara massal, secara efisien, dan untuk menutup biaya riset dan pengembangan serta biaya promosi), maka konsumen seperti inilah yang dituju oleh produsen.Laba masih sanngat rendah (bahkan merugi) kerana besarnya biaya pemasaran (terutama promosi) dan biya lainnya sementara penjualan masih rendah.
Pada tahap ini promosi difokuskan pada usaha membangun permintaan awal (primary demand) yaitu permintaan pada kelas produk (product class), bukan pada merek produk. Produk baru juga biasanya menimbulkan masalah distribusi, karena seringkali wholesaler dan retailer tidak bersedia menanggung risiko untuk menjual produk baru. Dengan demikian, biaya promosi menjadi sangat tinggi karena selain ditujukan untuk menginformasikan konsumen akhir tentang keberadaan produk, juga untuk menarik minat distributor.
2.      Tahap pertumbuhan (growth).
Dalam tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya. Tahap ini sendiri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
·         Rapid Growth
Tahap rapid growth ini ditandai dengan melonjaknya tingkat penjualan perusahaan dengan cepat karena produk telah diterima dan diminta oleh pasar. Tidak semua produk baru dapat mencapai tahap ini, bahkan tidak sedikit produk baru yang gagal di tahap awal. Namun jika produk baru itu berhasil, sesuai dengan kebutuhan konsumen, maka keadaan ini akan menarik pesaing untuk memasuki industry tersebut dengan produk tiruan. Oleh karena itu, penyesuaian produk seringkali dilakukan pertama kali di tahap ini Seiring dengan meningkatnya penjualan, laba juga meningkat karena biaya produk menjadi murah akibat efisiensi produksi dan kurva pengalaman (learning curve). Di samping itu biaya promosi juga dibebankan pada volume yang lebih besar. Sedangkan untuk distribusi, akan semakin banyak outlet yang diperlukan, sehingga penambahan retailer akan menjadi kebutuhan perusahaan. Pada tahap ini outlet akan mudah didapat oleh perusahaan karena banyak retailer yang tertarik dengan keuntungan dari kesuksesan produk baru ini. Namun situasi ini juga dipengaruhi oleh intensitas persaingan.

2

Semakin kuat intensitasnya, maka para retailer tidak akan mampu menangani setiap lini produk yang ditawarkan kepada mereka.

·         Slow Growth
Pada tahap ini penjualan masih meningkat, namun dengan pertumbuhan yang semakin menurun. Sebagian besar pasar telah dijangkau, karena produk perusahaan telah digunakan oleh mayoritas konsumen. Situasi ini akan menyebabkan perusahaan mulai memperbarui produknya agar dapat mempertahankan penjualannya. Pada umumnya dilakukan usaha modifikasi produk dengan menyempurnakan model (style improvement) guna memantapkan posisi produknya di pasar. Laba akan semakin sulit diperolehp erusahaan dan penyalur karena persaingan harga akan cenderung menyebabkan penurunan harga. Pesaing semakin banyak yang keluar dari pasar disebabkan oleh semakin berkurangnya keuntungan/daya tarik industri.
3.      Tahap kedewasaan (maturity)
Pada tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan pada tahap berikutnya tetaP. Tahap ini ditandai dengan tercapainya titik tertinggi dalam penjualan perusahaan. Normalnya tahap ini merupakan tahap terlama dalam PLC. Hal ini disebabkan pada tahap ini pemenuhan inti kebutuhan oleh produk yang bersangkutan tetap ada. Sebagian besar produk yang ada saat ini berada dalam tahap ini, karena itu sebagian besar strategi pemasaran ditujukan untuk produk-produk dalam tahap ini. Strategi pemasaran kreatif yang digunakan untuk memperpanjang daur hidup suatu produk disebut innovative maturity.
Penjualan dalam tahap ini sangat sensitif terhadap perubahan perekonomian. Pasar semakin tersegmentasi, sehingga untuk masing-masing segmen diperlukan promosi yang berbeda dengan lainnya. Umumnya tahap ini terdiri dari tiga tingkatan. Tingkat pertama disebutgrowth  maturity, yaitu pertumbuhan penjualan mulai berkurang yang disebabkan oleh dewasanya distribusi. Tidak ada lagi saluran distribusi baru yang bisa ditambah. Dalam tingkat kedua, stable maturity, penjualan menjadi mendatar yang disebabkan oleh jenuhnya pasar. Sebagian konsumen potensial telah mencoba produk baru yang ditawarkan perusahaan.pada tingkat ketiga, decaying maturity, penjualan mulai menurun dan konsumen mulai bergerak ke produk lain atau produk substitusi.
Menurunnya laju pertumbuhan penjualan mengakibatkan kelebihan kapasitas dalam industri. Hal ini kemudian menyebabkan persaingan menjadi sangat ketat dan intensif. Para pesaing akan lebih sering menurunkan harga, memberikan diskon besar-besaran ataupun mengobral produknya.



3

Harga akan semakin turun, penjualan tukar tambah mulai mendominasi, dan berbagai upaya dilakukan untuk mengikat pembeli dan penyalur. Dana riset dan pengembangan ditambah untuk menemukan produk baru. Semuanya ini akhirnya menyebabkan semakin menyusutnya laba. Pada tahap ini tidak ada celah lagi yang bisa dimasuki pendatang baru. Pesaing yang lemah akan tersingkir dari pasar, dan secara berangsur-angsur industri hanya akan terdiri dari perusahaan yang mapan.
Distribusi fisik menjadi semakin kompleks dan mahal. Produk sangat banyak tersedia di pasar. Jumlah outlet yang menjual produk perusahaan juga bervariasi sehingga akan memakan waktu dan biaya untuk memastikan bahwa tiap outlet telah memiliki produk terbaru perusahaan, mempunyai suku cadang yang cukup untuk reparasi produk sekarang, dan melakukan penjualan tukar tambah untuk produk yang lama. Faktor ini mendorong usaha promosi diubah dari periklanan ke personal selling dan sales promotion yang ditujukan kepada distributor.
4.      Tahap kemunduran (decline)
Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun. Penurunan penjualan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti perubahan selera pasar, produk substitusi diterima konsumen (baik dan dalam negeri maupun dan luar negeri), dan perubahan teknologi. Perusahaan akan mengeksploitasi produknya sebelum memutuskan untuk menghapusnya dan jajaran lini produk yang ditawarkan. Semuanya ini mengakibatkan menghebatnya persaingan harga, kelebihan kapasitas, dan laba perusahaan menghilang. Namun produk yang memasuki tahap decline bukan berarti sudah tidak menguntungkan lagi. Ada kemungkinan justru menguntungkan bagi perusahaan yang masih bertahan di pasar, karena dapat memanfaatkan sisa-sisa konsurnen yang sudah ditinggalkan pesaing. Pada tahap ini produk hanya akan memenuhi kebutuhan pasar inti, sehingga konsumen cenderung spesialis.
Apabila barang yang lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas. Alternatif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan menurun antara lain:
a.       Memperbarui barang (dalam arti fungsinya).
b.      Meninjau kembali dan memperbaiki program pemasaran serta program produksinya  agar lebih efisien.



4

c.       Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang baik.
d.      Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada barang yang sudah ada.
e.       Meninggalkan sama sekali barang tersebut.
f.      Menambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati
posisi persaingan yang baik.
g.      Mencari pasar baru.
h.     Tetap pada tingkat investasi perusahaan saat ini sampai
ketidakpastian industri dapat diatasi.
i.       Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai
dengan cepat.

  1. STRATEGI PEMASARAN DALAM SIKLUS HIDUP PRODUK

Dalam keempat tahap dari analisa Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini memiliki beberapa strategi (Kotler 1997) yaitu :
1.      Tahap Perkenalan (Introduction)
Strategi pemasaran pada tahap ini ditujukan untuk membangun kesadaran akan produk secara meluas dan mendorong konsumen untuk mencoba. Atau dengan kata lain adalah menciptakan primary demand (permintaan untuk produk baru). Untuk kepentingan ini produk biasanya didesain dengan model yang terbatas guna menghindari terjadinya kebingungan pada calon pembeli dan memudahkan mereka mengenal ciri produk dengan cepat.
a.       Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran. Cara ini biasanya dipakai untuk mempercepat laju penerobosan pasar. Strategi ini akan berhasil jika sebagian besar pasar belum mengetahui keberadaan produk, konsumen bersedia membayar pada harga berapa pun, dan perusahaan menghadapi pesaing potensial serta ingin membangun preferensi pada mereknya.
b.      Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk menekan biaya pemasaran. Strategi ini akan berhasil jika besarnya pasar terbatas, sebagian besar konsumen mengetahui keberadaan produk, konsumen mau membeli dengan harga tinggi, dan pesaing potensial belum muncul.

5

c.       Strategi penetrasi cepat (rapid penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan pangsa pasar yang paling besar. Strategi ini akan berhasil jika pasar sangat luas, konsumen belum mengetahui keberadaan produk, konsumen sangat peka terhadap harga, dan terdapat indikasi persaingan potensial yang besar.
d.      Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah. Keberhasilan strategi ini biasanya harus didukung dengan pasar yang sangat luas, konsumen mengetahui keberadaan produk, konsumen peka terhadap harga, dan persaingan potensial sangat rendah.
Lamanya tahap pengenalan ini sangat ditentukan oleh karakteristik produk seperti differential advantage dibandingkan produk produk lain yang eksis di pasar, usaha-usaha edukasional yang dibutuhkan, kadar sifat/corak baru suatu produk (degree of newness), dan komitmen sumber daya pihak manajemen terhadap item/aspek baru tersebut. Biasanya yang diharapkan adalah periode pengenalan yang singkat, sehingga pengaruh negatif terhadap penerimaan dan aliran kas dapat dikurangi. Demikian pula halnya dengan ketidakpastian terhadap produk baru tersebut diharapkan dapat ditekan.
2.      Tahap Pertumbuhan (Growth)
·         Rapid Growth
Strategi pemasaran pada tahap ini ditujukan terutama untuk membangun pasar yang kuat dan mengkhususkan distribusi. Mutu produk ditingkatkan dan lini produk diperluas untuk menarik segmen pasar baru. Selain lini produk, lini harga juga digunakan untuk memuaskan selera berbagai segmen, mulai dari harga rendah sampai dengan harga premi. Sementara itu promosi ditekankan untuk membangun preferensi merek (selective demand). Periklanan dititikberatkan pada media massa untuk memaksimumkan jangkauan penginformasian produk. Pemasar juga harus terus mengumpulkan informasi tentang kegiatan persaingan dan mencari segmen pasar baru karena peluang di pasar yang ada sudah mulai berkurang dengan semakin banyaknya pesaing yang muncul.
Bentuk-bentuk strategi yang dapat dilakukan pada tahap ini antara lain meliputi
a.       Meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru dan gaya yang lebih baik.
b.      Perusahaan menambahkan model – model baru dan produk – produk penyerta (yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi produk utama)

6

c.       Perusahaan memasuki segmen pasar baru.
d.      Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi yang baru.
e.       Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product preference advertising)
f.       Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap harga dilapisan berikutnya.
·         Slow Growth
Strategi pemasaran pada tahap ini sebagian besar difokuskan untuk memperkuat dan mempertahankan posisi pasar serta membangun kesetiaan konsumen dan penyalui. Dengan semakin banyaknya pesaing yang keluar dari pasar maka intensitas persaingan menjadi berkurang. Jumlah produk di pasar juga berkurang, selain akibat semakin terdesaknya produk tiruan yang gagal, juga disebabkan oleh lini produk perusahaan yang menyusut karena produsen dan penyalur menghilangkan item yang prestasinya jelek. Harga menjadi alat persaingan. Selain untuk rnempertahankan konsumen agar tetap membeli, alasan harga kini menjadi alat untuk bersaing karena pasar sudah jenuh dan tidak tertarik lagi dengan promosi perusahaan. Penyalur menjadi semakin penting karena produk yang selalu tersedia pada tingkat eceran akan dapat memberikan penghasilan secara teratur. Dengan demikian promosi akan bergeser dari konsumen ke penyalur. Di samping itu usaha untuk memberikan pelayanan purna beli (servis dan suku cadang) juga semakin meningkat. Intelijen pemasaran mulai memfokuskan pada peningkatan produk, mencari peluang di pasar baru, serta perbaikan dan penyegaran tema promosi.
3.      Tahap Kedewasaan (Maturity)
Strategi yang dapat dilakukan pada tahap ini :
a.       Modifikasi pasar
1)      Memperluas jumlah pemakai merk
2)      Meningkatkan tingkat pemakaian per pemakai
Volume = jumlah pemakai merk x tingkat pemakaian per pemakai
Jumlah pemakai merk  dapat diperluas dengan cara :
·         Mengubah orang bukan pemakai
·         Memasuki segmen pasar baru
·         Memenangkan pelanggan pesaing.



7


Strategi untuk meningkatkan tingkat pemakaian per pemakai:
·         Penggunaan lebih sering
·         Lebih banyak pemakaian per peristiwa
·         Penggunaan baru dan lebih bervariasi

      b.      Modifikasi produk
·         Peningkatan kualitas (quality improvement) bertujuan meningkatkan kemampuan produk, misalnya daya tahan, kecepetan, dan kinerja produk. Strategi ini efektif jika mutu produk memang masih bisa ditingkatkan, konsumen peka terhadap mutu produk, dan konsumen percaya bahwa mutu yang lebih tinggi akan memberikan manfaat yang lebih tinggi.
·         Peningkatan keistimewaan (feature improvement) bertujuan untuk menambahkan ciri-ciri baru pada produk seperti ukuran, berat, bahan pokok baru, bahan pelengkap, dan sebagainya. Kebaikan dari strategi ini adalah meningkatkan image perusahaan sebagai pemimpin pasar yang progresif, dapat merebut kesetiaan segmen pasar tertentu, memberikan publisitas cuma-cuma bagi perusahaan, mendorong antusiasme pada wiraniaga dan distributor, serta perubahan tersebut dapat dilakukan denganf leksibel tanpa tambahan biaya. Namun kelemahan terbesar dari strategi ini adalah mudah ditiru, terlebih lagi apabila perubahan tersebut tidak memberikan manfaat yang permanen.
·         Peningkatan gaya (style improvement) bertujuan untuk menambah daya tarik estetika produk seperti model, warna, kemasan dan lain – lain. Keuntungan dari strategi ini adalah terciptanya identitas yang khas di pasar serta kesetiaan konsumen pada merek. Namun strategi ini juga mempunyai masalah selain keuntungan di atas, yaitu sulit mengetahui kelompok orang yang menyukai model baru dan biasanya model baru menghilangkan model lama yang sudah diterima (style loyalty) sehingga perusahaan dapat menghadapi risiko kehilangan konsumen yang terlanjur menyukai model lama
c.     Modifikasi bauran pemasaran  (marketing mix) dimana perusahaan bertujuan untuk \mempertahankan pangsa pasar dari pesaing dan menjaga kelompok produk (product category) dari serangan produk substitusi. Bentuk strategi ini adalah berupa modifikasi bauran pemasaran untuk memperoleh tambahan penjualan. Strategi bertahan ini lebih menitikberatkan pada penekanan/pengurangan biaya produksi dan menghilangkan kelemahan produk. Distributor memainkan peranan penting untuk strategi ini, sebab tingkat penjualan yang mereka peroleh dipengaruhi oleh usaha promosi perusahaan untuk mendorong distributor tetap setia pada perusahaan. Di samping itu, karena promosi berkurang keefektifannya, maka penentuan harga menjadi bentuk lain dari promosi.

8
     Walaupun usaha promosi ditujukan untuk mempertahankan kesetiaan produk pada konsumen dan distributor, penekanannya akan lebih cenderung lebih berat pada distributor. Meskipun merupakan alternatif strategi yang baik pada tahap kedewasaan, strategi ini mempunyai kelemahan pokok yaitu sangat mudah ditiru pesaing, terutama jika yang dilakukan adalah potongan harga, peningkatan aktivitas pelayanan, dan distribusi massal. Keuntungan yang diperoleh pun tidak banyak, karena setiap tindakan yang dilakukan perusahaan akan mendapat reaksi dari pesaing.
d.      Menggunakan take-off strategy yang mana marupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat memperbaharui pertumbuhan pada saat produk masuk dalam kematangan.

  1. Tahap Penurunan (Decline)
Penjualan perusahaan yang semakin bergerak ke arah penurunan merupakan gejala tahap decline dalam PLC. Penurunan penjualan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti perubahan selera pasar, produk substitusi diterima konsumen (baik dan dalam negeri maupun dan luar negeri), dan perubahan teknologi. Perusahaan akan mengeksploitasi produknya sebelum memutuskan untuk menghapusnya dan jajaran lini produk yang ditawarkan. Semuanya ini mengakibatkan menghebatnya persaingan harga, kelebihan kapasitas, dan laba perusahaan menghilang. Namun produk yang memasuki tahap decline bukan berarti sudah tidak menguntungkan lagi. Ada kemungkinan justru menguntungkan bagi perusahaan yang masih bertahan di pasar, karena dapat memanfaatkan sisa-sisa konsurnen yang sudah ditinggalkan pesaing. Pada tahap ini produk hanya akan memenuhi kebutuhan pasar inti, sehingga konsumen cenderung spesialis.

Sejumlah alternatif dapat dilakukan pada tahap akhir PLC ini. Namun perlu diperhatikan bahwa pilihan alternatif haruslah didasarkan pada kekuatan dan kelemahan perusahaan serta daya tarik industri bagi perusahaan. Alternatif-alternatif tersebut di antaranya adalah :
  • Menambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik.
  • Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk.
  • Mencari pasar baru.
  • Tetap pada tingkat investasi perusahaan saat ini sampai ketidakpastian industri dapat diatasi.

9
  • Mengurangi investasi perusahaan secara selektif dengan cara meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan, tetapi menambah investasi untuk kelompok kecil konsumen yang masih setia dan menguntungkan.
  • Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai dengan cepat.
  • Meninggalkan bisnis tersebut dan menjual aset perusahaan.























10

BAB  III
PENUTUP

A.    SIMPULAN

Berdasarkan uraian bahasan “ strategi pemsaran dalam daur hidup produk“ dapat disimpulkan bahwa :
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar . Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978) yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.


B.     SARAN

Bertolak dari pembahasan strategi  pemsaran dalam daur hidup produk  penyusun memberikan saran sebagai berikut :

Bagi pembaca penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini.



SISTEM INFORMASI PEMASARAN DAN RISET PEMASARAN


BAB I
PENDAHULUAN

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian,karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahuiteknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhistandart atau yang ditetapkan.Dalam riset pemasaran, ada bermacam-macam metode pengumpulan data yangterdiri dari observasi, wawancara, dokumentasi, focus group, teknik proyeksi, survei, dantriangulasi (gabungan).Oleh karena itu untuk lebih memahami metode pengumpulan data yang digunakandalam riset pemasaran, dalam bab ini akan dibahas mengenai macam-macam metode pengumpulan data
Agar setiap produk mempunyai nilai lebih tinggi maka harus terjadi pertukaran. Untuk itu diperlukan strategi. Strategi pemasaran yang akan dipelajari di sini adalah strategi peta produk yaitu melihat posisi produk dimata pesaing. Strategi peta produk ada tiga yaitu produk baru, daur hidup produk, dan strategi bersaing.












1

BAB  II
PEMBAHASAN


Informasi yang dihasilkan oleh riset pemasaran marupakan hasil akhir proses pengolahan selama berlangsungnya riset. Informasi pada dasarnya berujung awal dari bahan mentah yang disebut data sehingga sering juga disebut sebagai data mentah (rawdata).Data memiliki berbagai wujud seperti angka penjualan, jumlah produk yang dihasilkan, pendapat konsumen, gerak perilaku orang belanja, dan lain-lain.
1.       Pembagian Jenis Data
Ditinjau dari sumbernya, data dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar, yaitudata sekunder dan data primer.

a)      Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain bukan oleh periset sendiri. Periset sekedar mencatat, mengakses atau meminta data tersebut (kadangsudah bentuk informasi) ke pihak lain yan telah mengumpulkannya di lapangan. Perisethanya memanfaatkan data yang sudah ada untuk penelitiannya. Contoh data sekunder adalah data kependudukan yang diterbitkan secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS).Selanjutnya data sekunder bisa dipilah-pilah lagi atas dasar asal atau sumber  penyedianya. Data sekunder dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu data internaldan data eksternal.

b)     Data Internal
Sesuai dengan namanya data ini berasal dari perusahaan yang bersangkutan. Datainternal yang tersedia di dalam perusahaan biasanya berkaitan dengan kegiatanoperasional perusahaan yang dicatat secara rutin. Data internal seringkali tidak tersediasecara lengkap di perusahaan yang kecil atau kurang terorganisir dengan baik.Perusahaan atau organisasi yang memiliki data pelanggan yang terorganisir dengan baik,akan memiliki database lengkap yang berisi karakteristik pelanggannya. Data-datainternal ini mungkin akan cukup untuk pemasaran yang memiliki topik berupa deskripsi pelanggan saat ini, ramalan penjualan, analisis provitabilitas produk atau pola pembelian produk oleh konsumen yang secara umum berkaitan dengan kegiatan operasional atautransaksi.


2

Bila dibandingkan dengan sumber data yang lain, data internal mempunyai beberapa kelebihan yaitu data sudah tersedia dan tidak membutuhkan biaya besar bagi periset untuk mendapatkannya.

c)      Data Eksternal
Data eksternal merupakan data yang berasal dari luar perusahaan, artinya yangmengumpulkan atau mempublikasikan data tersebut bukanah perusahaan yang bersangkutan melainkan organisasi lain seperti pemerintah, organisasi nirlaba atauyayasan, asosiasi dagang, perusahaan investasi atau perusahaan riset. Untuk mendapatkandata eksternal yang kadang sudah berupa informasi, periset dapat mengunjungi berbagai perusahaan yang lengkap.Bila diamati, data eksternal cenderung lebih banyak berhubungan denganlingkungan makro seperti kondisi persaingan, demografi, ekonomi, politik, hukum, sertasosial dan budaya. Jadi bila topik riset pemasaran lebih mengarah pada aspek lingkunganluar seperti mengukur potensi pasar di suatu daerah, mengukur daya beli penduduk,menentukan wilayah pemasaran yang secara politik stabil atau mungkin mengidentifikasi jumah pesaing dan pangsa pasar, maka pemanfaatan data eksternal seringkali sudahmencukpi.Seperti data intenal yang memliki keterbatasan, untuk riset dengan topik khusus,sepert mengungkapkan perilaku, sikap, motivasi, tingkat kepuasan, atau pengetahuanyang dimiliki pembeli akan sulit ditemui jika hanya mengandalkan data eksternal.Sebagai alternatifnya, periset harus mengadakan atau mengumpulkan data sendiri yangmembutuhkan komitmen yang lebih besar.

d)     Data Primer
Data primer merupakan data asli yang dikumpulkan oleh periset untuk menjawabmasalah risetnya secara khusus. Dalam riset pemasaran, data primer diperoleh secaralangsung dari sumbernya, sehingga periset merupakan “tangan pertama” yangmemperoleh data tersebut.Karena data primer dikumpulkan sendiri oleh periset, tentu saja dibutuhkankomitmen yang lebih besar dibandingkan perolehan data sekunder. Riset yangmengandalkan data primer relatif membutuhkan biaya dan sumber daya yang lebih besar seperti biaya, waktu yang lebih lama dan lebih rumit dibandingkan data sekunder.

e)      Data Kualitatif 
Data kualitatif dikumpulkan melalui pertanyaan – pertanyaan yang tidak terstruktur.Artinya, alat yang digunakan untuk bertanya kepada responden cenderung berupa topik dan biasanya tanpa diberikan pilihan jawaban.

3
Karena tujuannya untuk menggali ideresponden secara mendalam. Data kualitatif bersifat tidak terstruktur dalam arti variasidata yang diberikan oleh sumbernya (orang, partisipan atau responden yang ditanyai)sangat beragam.

f)       Data Kuantitatif 
Dalam pengumpulan data kuantitatif, karena sifat datanya terstruktur, periset akan berusaha melakukan proses membuat data menjadi data kuantitatif yaitu mengubah datasemula menjadi data berwujud angka.Data kuantitatif bersifat terstruktur atau berpola sehingga ragam data yang diperoleh darisumbernya (responden yang ditanyai atau obyek yang diamati) cenderung memiliki polayang lebih mudah dibaca oleh periset.

2 . Metode Pengumpulan Data
Bermacam-macam metode pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara,dokumentasi, focus group, teknik proyeksi, survei, dan triangulasi (gabungan)

1)      Observasi
Pengumpulan data melalui observasi dijalankan dengan mengamati dan mencatat pola perilaku orang, obyek atau kejadian – kejadian melalui cara sistematik ( Malhotra,et.al., 1996 ). Dalam hal ini, periset tidak berkomunikasi atau bertanya dengan orang atauobyek yang sedang diobservasi sehingga orang atau obyek yang sedang diobservasi tidak sadar kalau mereka sedang diteliti. Observasi bisa dilakukan dengan mengamati beberapa hal diantaranya :

a.Perilaku fisik, misalnya lalu lintas pengunjung yang berpindah dari satu lantai ke lantaiyang lain dalam satu mal. 
b.Perilaku mengonsumsi, misalnya perilaku mencuci pakaian dengan deterjen.
c.Perubahan mimik atau raut wajah, misal ekspresi muka yang ditunjukkan parakonsumen yang sedang antre di depan kasir supermarket.
d.Obyek, misalnya mengamati merk – merk kemasan yang dibuang dalam keranjangsampah di daerah perumahan.Metode observasi menawarkan keunggulan beberapa perilaku yang nyata atauaktual dari orang atau obyek yang diamati sehingga tidak terjadi manipulasi oleh orangtersebut.







4


Macam-macam Observasi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1)Observasi Partisipatif

Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedangdiamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikutmerasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperolehakan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat mana dari setiap perilakuyang tampak.
                   
2)Observasi Terus Terang atau Tersamar 

Dalam hal ini, peneliti melakukan pengumpulan data menyatakan terus terangkepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang ditelitimengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Tetapi suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalausuatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalaudilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukanobservasi.

3)Observasi Tak Berstruktur 

Observasi tidak tersturktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secarasistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahusecara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.

2.    Wawancara
Wawancara merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh informasisecara langsung, mendalam, tidak terstruktur dan individual. Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehinggadapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.Dalam wawancara, seorang responden ditanya oleh pewawancara untuk mengungkapkan perasaan, motivasi, sikap atau keyakinannya terhadap suatu topik  pemasaran ( Malhotra, 2004 )Bentuk wawancara yang terkini memungkinkan pewawancara dan orang yangdiwawancarai tidak bertemu secara fisik. Macam-macam interview/wawancara, yaitu:



5


1)Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila penelitiatau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akandiperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telahmenyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif  jawabannya telah disiapkan.

2)Wawancara Semi terstruktur 

Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secaralebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatatapa yang dikemukakan oleh informan.
                           
3)Wawancara tak berstruktur Wawancara tidak terstruktur atau terbuka adalah wawancara yang bebas dimana penelitian pendahuluan atau malahan untuk penelitian yang lebih mendalam tentangsubyek yang diteliti. Pada penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkaninformasi awal tentang berbagai permasalahan yang ada pada obyek, sehingga penelitidapat menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti. Untuk mendapatkan gambaran permasalahan yang lebih lengkap, maka peneliti perlu melakukanwawancara kepada pihak-pihak yang mewakili berbagai tingkatan yang ada dalam obyek.

3.Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Hasil penelitiandari hasil observasi atau wawancara, akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalaudidukung oleh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja atau dimasyarakat.Tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yangtinggi. Sebagai contoh banyak foto yang tidak mencerminkan keadaan aslinya, karenafoto dibuat untuk kepentingan tertentu. Demikian juga autobiografi yang ditulis untuk dirinya sendiri, sering subyektif.

4. Focus Group
Suatu bentuk pengumpulan data melalui diskusi kelompok dalam pemasarandikenal sebagai focus group atau diskusi grup terfokus. Diskusi group terfokusmerupakan kelompok kecil yang terdiri dari 8-10 orang yang dipilih untuk mendiskusikan topik tertentu tanpa menggunakan kuesioner yang terstruktur.

6

Dari diskusi focus group ini diharapkan muncul ide secara spontan dari para peserta. Dibandingkan wawancara, diskusi grup terfokus lebih menitikberatkan hasilyang mencerminkan ide – ide yang mewakili kelompok.Seperti halnya wawancara yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi, dalamdiskusi grup terfokus pun dimungkinkan bahwa antar anggota tidak bertemu secaralangsung dalam diskusi. Bentuk diskusi grup terfokus melalui diskusi interaktif denganmenggunakan internet sudah mulai biasa diterapkan dalam riset sehingga bisamenghemat biaya yang dikeluarkan untuk transportasi peserta dan biaya – biaya fasilitas.

5.Teknik Proyeksi
Teknik proyeksi merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh datadengan mendorong responden menggungkapkan perasaan, motivasi, sikap ataukeyakinannya terhadap suatu topik pemasaran dengan pertanyaan tidak langsung dantidak terstruktur ( Malhotra, 2004 ). Pengertian tidak langsung disini berarti bahwa partisipan bebas memproyeksikan atau menyamaartikan apa saja yang muncul dalam pikiran atau perasaannya barkaitan dengan obyek atau topik yang disampaikan peneliti.Bagi manajer pemasaran, informasi yang yang didapat dari teknik proyeksi ini akanmemperkaya pandangannya mengenai masalah yang sedang diteliti dan memperluas ide – ide baru seperti ide tentang nama merk produk, ide tentang pesan suatu iklan, ide tentangcara penggunaan produk dan lain – lain.

Teknik proyeksi dapat dijalankan melalui beberapa cara seperti asosiasi kata, penyelesaiaan kalimat atau uji melalui gambar.

a.Asosiasi kata
Melalui asosiasi kata, partisipan diminta untuk menyebutkan satu atau beberapakata yang muncul di benak mereka saat sebuah kata atau serangkaian kata utamadisebutkan atau ditampilkan oleh periset. Disini partisipan akan mengasosiasikan ataumengidentikkan makna kata – kata yang disebutkan dengan kata atau rangkaian kata yangditampilkan semula.
 b.Penyelesaian kalimat
Melalui cara ini suatu kalimat yang tidak lengkap akan ditampilkan kehadapan partisipan. Selanjutnya, partisipan diminta untuk melengkapi kalimat itu menjadi kalimatyang utuh sesuai dengan pandangan , perasaan atau pendapatnya.
c.Tes gambar Teknik proyeksi melalui tes gambar, menggunakan alat bantu berupa gambar ataufoto yang mewakili obyek yang akan diteliti. Cara ini akan membantu partisipanmengingat kembali dengan baik obyek atau produk yang diteliti.



7


6.Survei
Survei merupakan metode yang digunakan secara luas, khususnya dalam risetkonsumen. Informasi dikumpulkan dengan menanyai orang melalui daftar pertanyaanatau kuesioner yang terstruktur.Dengan survei, periset bertujuan memperoleh informasi seperti preferensi, sikap,atau pendapat responden yang diungkapkan dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan.

Ditinjau dari cara menjalankannya, survei dapat dikelompokkan menjadi beberapa bantuk yaitu survei secara individu, survei intersep, survei melalui telepon, survei melaluisurat, dan survei menggunakan internet.
a.Survei secara individuSurvei ini dijalankan periset dengan menemui responden secara bertatap muka.Periset atau etugas lapangan yang ditugaskan akan menanyai responden dengan sejumlah pertanyaan terstruktur yang sudah disiapkan sebelumnya. Jawaban responden terhadap pertanyaan – pertanyaan ini akan dicatat oleh periset untuk dianalisis lebih lanjut. 
b.Survei intersepSurvei intersep berarti survei yang dilakukan dengan “menghentikan” responenyang sedang berjalan di mal atau tempat – tempat lain, lalu meminta kesediannya secarasukarela untuk berpartisipasi dalam survei.Dalam hal ini periset akan mengidentifikasi lebih dulu calon responden yangdiyakini qualifed sesuai dengan topik riset.
c.Suvei melalui teleponSurvei ini dijalankan melalui percakapan lewat telepon. Responden yang digunakantentunya terbatas pada pemilik telepon yang biasanya terdaftar dalam buku petunjuk nomor telepon. Calon responden terlebih dahulu akan dihubungi lewat telepon atau mediayang lain dan akan dimohon kesediaannya untuk berpartisipasi dalam riset.
d.Survei melalui suratBentuk survei melalui surat “dijawab sendiri” oleh responden sehinggadimungkinkan bahwa periset dan responden tidak pernah saling bertemu baik secaralangsung maupun tidak langsung maupun melalui percakapan.Metode ini dipandang murah namun periset tidak mampu mengontrol tanggapanresponden dan kemungkinan responden mengabaikan cukup besar.
e.Survei melalui internetBentuk survei terkini dapat dijalankan melalui pamanfaatan fasilitas internet.Penggunaan survei melalui internet tentunya memiliki kelebihan dalam cakupan geografiresponden yang luas dengan biaya yang murah dan waktu yang cepat.Di samping manfaat yang bisa diperoleh, survei melalui internet memiliki beberapakelemahan yaitu terbatas pada penggunaan internet yang biasanya memiliki karakterististertentu.generasi yang sangat tua atau mereka yang jauh dari teknologi tentu tidak dapat berpartisipasi jika survei dijalankan melalui internet. Demikian juga internet memilikikelemahan pada ketidakpastian kualitas respondennya.


8

7. Triangulasi (gabungan)
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulandata yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, makasebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitumengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagaisumber data.Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakanobservasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi untuk sumber data yangsama secara serempak. Triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.



























9


BAB  III
PENUTUP

A.    SIMPULAN

Berdasarkan uraian bahasan “ Sistem Informasi Pemasaran dan Riset Pemasaran“ dapat disimpulkan bahwa :
Ditinjau dari sumbernya, data dapat dikategorikan menjadi dua kategori besar yaitudata sekunder dan data primer. Data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkanoleh pihak lain bukan oleh periset sendiri. Sedangkan data primer merupakan data asliyang dikumpulkan oleh periset untuk menjawab masalah risetnya secara khusus.Dalam sebuah penelitian diperlukan beberapa metode untuk mendapatkan data. Ada bermacam-macam metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data yang terdiridari observasi, wawancara, dokumentasi, focus group, teknik proyeksi, survei, dantriangulasi (gabungan).Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkandata yang memenuhi standart atau yang ditetapkan

B.     SARAN

Bertolak dari pembahasan “ Sistem Informasi Pemasaran dan Riset Pemasaran“ penyusun memberikan saran sebagai berikut :
Bagi pembaca penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini.







10